Selasa, 17 April 2012


PEMIKIRAN/PERKEMBANGAN  BAHASA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Semester II
Program Strata Satu Fakultas Tarbiah
Mata kuliah : FILSAFAT ILMU
Dosen
StainuTAUFIK HIDAYAT TR, M.Pd





OLEH
            ADMIYATI                                       NIM    (2104053)
            AHMAD MUKHLISON                  NIM    (2104054)
             ALHIDAYATI  VAJRI  KM         NIM    (2104055)
            ANGGI  PRATAMA                                   NIM    (2104056)
            DWI RETNO UTAMI                     NIM    (2104057)
            FAHRONI                                         NIM    (2104058)
FARIDA ULINNUHA                     NIM    (2104059)
HANAFI                                            NIM    (2104061)
HARUN                                             NIM    (2104062)
IBNU SYARIF AL BANA              NIM    (2104063)
IVA YULI                                         NIM    (2104064)
KUTUBI                                            NIM    (2104065)
S1/PAI/II/G
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU) KEBUMEN
2010

BAB I
PENDAHULUAN

A.    PENDAHULUAN
Pengolahan berpikir diaktifkan melalui simbol-simbol yang telah dikembangkan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan sensasi yang disebabkan oleh integrasi berbagai stimulus berdampak pada indera. Sensasi tersebut membantu individu untuk mengatur berbagai persepsi-persepsi ini akal menjadi (intuisi, firasat) pemahaman tunggal. Pemahaman  ini kemudian tunduk pada pengembangan atau adopsi representasi simbol (bahasa) yang tidak hanya memungkinkan kita untuk secara sadar memahami ide yang disebabkan oleh sensasi, tapi untuk berkomunikasi dengan baik.
Bahasa adalah aspek yang paling penting dalam kehidupan semua makhluk. Kami menggunakan bahasa untuk mengungkapkan pikiran batin dan emosi, masuk akal pemikiran kompleks dan abstrak, belajar untuk berkomunikasi dengan orang lain, untuk memenuhi keinginan kita dan kebutuhan, serta menetapkan peraturan dan mempertahankan budaya kita. Bahasa dapat didefinisikan sebagai verbal, fisik, biologis bawaan, dan bentuk dasar komunikasi.
Bakan yang lebih penting lagi, berkembangnya bahasa sebagai ilmu pengetahuan tertama tetang peranan bahasa daam pengembangan metode ilmiah, logika dan epistemologi. Pada zaman modern ini terdapat tokh-tokoh filsafat modern yang memiliki penganut yang sangat kuat terhadap berkembangnya filsafat analitika bahasa.

B.     TUJUAN
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang :
1.      Pengertian bahasa
2.      Tahapan studi linguistik
3.      Dialog dan ragam bahasa
4.      Keterkaitan antara bahasa dan pemikiran
5.      Pemikiran bahasa
6.      Perkembangan bahasa







BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN BAHASA
Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Surya Sumantri, 1998).
Materi bahasa bisa dipahami melalui Linguistik sebagaimana dikemukakan oleh Yudibrata bahwa linguistik adalah ilmu yang mengkaji bahasa, biasanya menghasilkan teori-teori bahasa; tidak demikian halnya dengan siswa sebagai pembelajar bahasa, (1998: 2)
Dalam proses berbahasa terjadi proses memahami dan menghasilkan ujaran,  berupa kalimat-kalimat. Karena itu, Emmon Bach (Tarigan, 1985: 3) mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara/pemakai  bahasa membentuk/ membangun kalimat-kalimat bahasa tersebut.
Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:
The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”
Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Secara garis besar studi tentang bahasa dapat dibedakan antara (1) tata bahasa tradisional dan (2) linguistik modern. Selanjutnya Linguistik dapat dibagi menjadi beberapa cabang yaitu, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

B.      TAHAPAN STUDI LINGUISTIK
1.      Tahap pertama yaitu tahap spekulasi maksudnya pernyataan tentang bahasa tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng/cerita dan klasifikasi.
2.      Tahap kedua, tahap observasi dan klasifikasi. Pada tahapan ini diadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori.
3.      Tahap ketiga, tahap perumusan teori atau membuat teori-teori, sehingga dapat dikatakan bersifat ilmiah.




C.    DIALOG DAN RAGAM BAHASA
Pada keadaannya bahasa Indonesia menumbuhkan banyak varian yaitu varian menurut pemakai yang disebut sebagai dialog dan varian menurut pemakaian yang disebut sebagai ragam bahasa.
Dialog dibedakan atas beberapa hal, yaitu :
1.      Dialog regional, yaitu rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meski mereka berasal dari eka bahasa. Oleh karena itu, dikenallah bahasa Melayu, dialog  Jakarta (Betawi), dialog  Medan.
2.      Dialog sosial, yaitu dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu. Contohnya dialog orang tua dengan anak muda.
3.      Dialog temporal, yaitu dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu. Contohnya dialog Melayu zaman Sriwijaya dan dialog Melayu zaman Abdullah.
4.      Idiolog, yaitu keseluruhan ciri bahasa seseorang. Sekalipun kita semua berbahasa Indonesia, kita masing-masing memiliki ciri-ciri khas pribadi dalam pelafalan, tata bahasa, atau pilihan dan kekayaan kata.




D.    KETERKAITAN ANTARA BAHASA DAN PEMIKIRAN
Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memahami ujaran.  Dapat dikatakan bahwa psikolinguistik adalah studi tentang mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat memproduksi atau memahami ujaran .Dengan kata lain, dalam penggunaan bahasa terjadi proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode menjadi  pikiran. Ujaran merupakan sintesis dari proses pengubahan konsep menjadi kode, sedangkan pemahaman pesan tersebut hasil analisis kode.
Bahasa sebagai wujud atau hasil proses dan sebagai sesuatu yang diproses baik berupa   bahasa  lisan  maupun  bahasa  tulis,  sebagaimana  dikemukakan   oleh  Kempen (Marat, 1983: 5) bahwa Psikolinguistik adalah studi mengenai manusia sebagai pemakai bahasa, yaitu studi mengenai sistem-sistem bahasa yang  ada pada manusia yang dapat menjelaskan cara manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan bagaimana ia dapat mengekspresikan ide-idenya sendiri melalui bahasa, baik secara tertulis ataupun secara lisan.
Apabila dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh seseorang, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Manusia hanya akan dapat berkata dan memahami satu dengan lainnya dalam kata-kata yang terbahasakan. Bahasa yang dipelajari semenjak anak-anak bukanlah bahasa yang netral dalam mengkoding realitas objektif. Bahasa memiliki orientasi yang subjektif dalam menggambarkan dunia pengalaman manusia. Orientasi inilah yang selanjutnya mempengaruhi bagaimana manusia berpikir dan berkata.

E.     PEMIKIRAN BAHASA
Berasal dari istilah episteme yang berarti pengetahuan, epistemologi kini dikenal sebagai cabang kajian tentang bentuk-bentuk pengetahuan yang sahih. Sering pula disebut sebagai filsafat atau teori pengetahuan.
Lazimnya, selain logika dan matematika, epistemologi juga memandang bahasa sebagai piranti sangat penting untuk menghasilkan pengetahuan yang sahih. Dengan ungkapan lebih sederhana, bahasa merupakan salah satu sarana berpikir ilmiah, sekaligus juga sarana untuk menyampaikan hasil pemikiran ilmiah. Karena itu, penting sekali bagi siapa pun yang akan memasuki dunia pengetahuan secara umum untuk memahami hubungan antara bahasa dengan kegiatan berpikir.
Memang tidak banyak filsuf atau ilmuwan yang menaruh perhatian cukup besar terhadap hubungan antara bahasa dan pemikiran, apalagi dikaitkan dengan peradaban. Dari jumlah yang sedikit tersebut, bisa disebut antara lain Thomas Hobbes, Ludwig Wittgenstein, Ernest Cassirer, dan Michael Polanyi.
Mana yang lebih dulu dan lebih penting antara bahasa dan pemikiran? Bisakah tumbuh bahasa tanpa pemikiran? Mungkinkah pemikiran berlangsung tanpa bahasa? Barangkali itu merupakan sejumlah pertanyaan yang begitu menggoda untuk ditelaah terus-menerus.
Thomas Hobbes, seorang filsuf terkemuka berkebangsaan Inggris, mempertanyakan ”apa yang memungkinkan pengetahuan manusia terus-menerus berkembang?” Perenungannya sampai pada simpulan bahwa keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya menandai secara simbolik setiap kenyataan. Contoh sangat sederhana tetapi cukup mengejutkan kita adalah, sebuah perhelatan yang demikian rumit seperti ini --- ada kepanitiaan, pidato ilmiah, tamu-tamu terhormat, paduan suara, prosesi anggota senat, spanduk, konsumsi dan sebagainya ----, bisa ditandai secara simbolik dengan istilah ”pengukuhan”, sebuah istilah yang sangat ringkas, sederhana, dan mudah dipahami. Memang salah satu fungsi bahasa adalah untuk membuat simplifikasi realitas yang kompleks agar mudah dipahami.
Manusia mampu membentuk lambang atau memberi nama guna menandai setiap kenyataan, sedangkan binatang tidak mampu melakukan itu semua. Karena ada sediaan nama-nama itu, maka manusia mampu memanggil kembali dan mengaitkannya satu sama lain. Ilmu dan filsafat dimungkinkan kelahirannya karena kemampuan manusia untuk merumuskan kata-kata dan kalimat.
Menjadi agak mudah bagi kita untuk memahami pernyataan seorang filsuf bahasa kenamaan Ludwig Wittgenstein bahwa ”batas bahasaku adalah batas duniaku” (Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt). Kalau ketidak-mampuan berbahasa adalah batas dunia binatang, maka kekurangcakapan berbahasa juga membatasi dunia manusia. Apabila  menghendaki memperluas dunia manusia, maka salah satu piranti utamanya adalah kecakapan berbahasa.
Ernest Cassirer, menggeser locus kajian filosofisnya pada persoalan hubungan antara bahasa dan pemikiran. Hasilnya, meskipun pada bidang kajian yang berbeda, mengingatkan tengara Emile Durkheim tentang kekhususan seorang pemikir luar biasa:
Memang Ernest Cassirer juga melahirkan suatu simpulan  yang berbeda dari kecenderungan pemikiran awam. Kalau kebanyakan dari kita meyakini bahwa pembeda utama manusia dari binatang adalah kemampuan berpikirnya, maka Cassirer menegaskan bahwa manusia menjadi begitu istimewa karena bahasa. Ungkapan Erving Goffman, ”... human beings are symbol-using creatures”, pada dasarnya sama dan sebangun dengan penyebutan Cassirer bahwa manusia adalah animal symbolicum.
Secara filosofis, sebutan manusia sebagai makhluk pengguna simbol memiliki cakupan lebih luas dibanding sebutan manusia sebagai makhluk berpikir (homo sapiens), karena hanya dan hanya bila menggunakan bahasa maka manusia bisa berpikir dengan runtut, teratur, canggih, dan abstrak. Lebih lanjut, semua prestasi kolektif manusia, seperti khasanah pengetahuan keilmuan, kemajuan peradaban, serta keadiluhungan budaya, hampir pasti tidak bisa diwujudkan tanpa peran bahasa sebagai prasyarat utama.
F.     PENGEMBANGAN BAHASA
Pengembangan bahas tidak lepas dari filsafat bahasa yang memiliki kekhususan yaitu masalah yang dibahsa berkenaan dengan bahasa yang lebih menekankan pada arti kata atau arti bahasa (semantik). Di dalam bahasa banyak ditemui kata yang bersinonim yang membuktikan bahasa itu berkembang. Struktur kalimat juga berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang meningkat, dahulu struktur kalimat memiliki pokok, sebutan, objek tetai sekarag sudah muncul subjek, predikat, keterangan dan ada lagi frase benda, frase kerja, dan frase  keterangan.
Ada juga kata pemimpin dengan pimpinan yang memiliki arti berbeda. Kata simpulan berasal dari kata kesimpulan. Jadi semakin banyak perubahan atau perkembangan bahasa itu, ilmu pengetahuan tentang bahasa juga semakin meningkat.
Ada juga yang memakai singkatan-singkatan atau akronim, seperti : OTISTA (Obrolan Artis dalam Berita), KISS ( Kisah Seputar Selebritis). Hukum  DM (Diterangakan, Menerangkan) juga merupakan pengembangan bahasa. Bahasa Indonesia hukum DM, contohnya: rumah putih  ( DM) dan dalam Bahasa Inggris white house (MD). Dahulu terdapat kata Sarjan Wanita ini memiliki hukum MD, muncul paradigma baru menjadi Wanita Sarjana dengan hukum (DM). Dalam kaidah ini yang benar adalah Wanita Sarjana karena Bahasa Indonesia memiliki EYD. Ini semua karena ilmu pengetahuan yang semakin berkembang.
BAB III
SIMPULAN

1.      Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol abstrak. Dengan adanya transformasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Surya Sumantri, 1998).
2.      Tahapan belajar linguistik (bahasa) tahap spekulasi, tahap observasi dan klasifikasi, tahap perumusan teori atau membuat teori-teori
3.      Dialog dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain : dialog regional, dialog sosial, dialog temporal, idiolog
4.      Dalam penggunaan bahasa terjadi proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode menjadi  pikiran. Ujaran merupakan sintesis dari proses pengubahan konsep menjadi kode, sedangkan pemahaman pesan tersebut hasil analisis kode.
5.      Pengembangan bahas tidak lepas dari filsafat bahasa yang memiliki kekhususan yaitu masalah yang dibahsa berkenaan dengan bahasa yang lebih menekankan pada arti kata atau arti bahasa (semantik)


DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Chaer. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Alwasilah, Chaedar. (1985). Linguistik Suatu Pengantar.Bandung: Angkasa.
Fromkin, Victoria & Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language (6th Edition). Orlando: Harcourt Brace College Publishers.
Kaelan, M.S.1998.Filsafat Bahasa.Yogyakarta : Penerbit Paradigma
Ludwig, Wittgenstein, Tractatus Logico-Philosophicus, (London: Routledge & Kegan Paul, 1972), pp. 115.
Matthews, Peter. 1997. The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Oxford: Oxford University Press
Saliyanti.2004.Peranan Filsafat Bahasa Dalam Pengembangan Ilmu Bahasa. Medan: Universitas Sumatera Utara
Soenjono, Dardjowidjojo. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar